Na Paduahon

Untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan jemaat HKBP Angkola (sekarang GKPA) di Jakarta, maka perhatiannya tidak bisa lepas dari perkembangan HKBP dan juga pertumbuhan orang Kristen yang berasal dari Tapanuli di Jakarta. Sejarah mencatat bahwa sejak berakhirnya Perang Batak sekitar 1907, hubungan antara Sumatera Utara dan Pulau Jawa menjadi semakin membaik, sehingga orang Batak mengenal daerah baru sebagai tempat merantau. Salah seorang Pemuda Batak yang merantau ke Batavia adalah Simon Hasibuan pada 1907 setelah selesai belajar di Seminari Pansurnapitu.

 

1917

Lama kelamaan jumlah orang Batak yang beragaman Kristen semakin bertambah, dimana pada 1917 jumlahnya kurang lebih 30 orang dengan beberapa diantaranya sudah berkeluarga.

Pada waktu itu di Batavia belum ada gereja Batak, sehingga mereka mengikuti kebaktian di gereja yang sudah ada pada waktu itu, seperti: Indische Kerk, Gereformeerde Kerk, Gereja Methodis. Salah seorang pendeta yang erat hubungannya dengan orang Batak waktu itu adalah Ds. L. Tiemersma dari jemaat Gereformeerd. Pendeta tersebut, melalui F. Harahap, mengajak orang Batak agar mengadakan kebaktian di jemaat yang dipimpinnya di Hollands Chinesche School di Gang Chasse (sekarang Jl. Kemakmuran).

1919

Karena jumlah orang Batak di Batavia yang megikuti kebaktian terus bertambah, maka pada 20 September 1919 dengan persetujuan Ds. Tiemersma, kebaktian yang selama ini dilaksanakan di Gang Chasse dipindahkan ke Bijbelschool (Sekolah Alkitab) di Pasar Baru. Dengan demikian, era baru sudah dimulai, karena kebaktian dilaksanakan dalam Bahasa Batak. Jemaat yang berangotakan sekitar 50 orang tersebut dipimpin Guru: S. Hasibuan, F. Harahap dan Sutan Harahap. Seiring pertumbuhan jumlah jemaat dan juga ramainya perkembangan daerah pemukiman di Kwitang, maka tempat kebaktian dipindahkan dari Pasar Baru ke Gedung HIS di Kwitang.

Menjelang akhir 1919, dibentuk Majelis Gereja dengan susunan pengurus:

- Ketua: Guru Elisa Harahap

- Wakil Ketua: Farel L. Tobing

- Penulis: Matheus Nababan

- Wakil Sekretaris: Bonifacius Simatupang

- Bendahara: Guru Simon Hasibuan

- Anggota: Frederik Harahap, Paul. L. Tobing, Henok Silitonga.

Majelis bari ini kemudian dihadapkan kepada permasalahan peningkatan pelayanan dengan munculnya kebutuhan akan seorang pendeta, kebutuhan gedung gereja dan sebuah asrama untuk pemuda yang bertambah banyak.

1922

Pada bulan Maret tiba keluarga Pdt. Mulia Nainggolan untuk bertugas di Jakarta. Sementara itu Gereja Gereformeerd terus membina dan membantu jemaat Batak yang baru bertumbuh tersebut. Seiring kondisi tersebut, di Bandung dan Surabaya juga sudah dimulai kebaktian dalam Bahasa Batak. Dengan demikian, pelayanan Pdt. Mulia Nainggolan menjadi sedemikian luasnya dan terus berkembang sampai pada akhir masa baktinya pada tahun 1928.

1928

Setelah pensiun, maka penggantinya tiba di Jakarta yaitu Pdt. Peter Tambunan, yang melayani jemaat yang terus bertumbuh sehingga muncul kerinduan memiliki sebuah gedung gereja.

1930

HKBP berdiri sendiri secara penuh dan diakui sebagai Badan Hukum (Rechtspersoon). Hal ini merupakan tonggak sejarah Perkabaran Injil karena dengan diakui sebagai badan hukum berarti HKBP sudah lepas dari Rheinische Mission Gesellschaft. Selanjutnya pada 1932 menyusul penyerahan gereja-gereja di daerah Angkola-Mandailing yang melepaskan diri dari Java Committee dan Doopgezind Zendings Genootschap kedalam kepengurusan HKBP.

1931

Dengan bantuan dermawan dan tanggung jawab para anggota, dapat dikumpulkan sejumlah dana, sehingga kemudian Pdt. Peter Tambunan mengutus JK. Panggabean dan E. Sutan Harahap untuk memimpin utusan menghadap Walikota. Akhirnya Walikota memberikan sebidang tanah di Gang Kernolong 37. Pembangunan gereja segera dimulai dan Peletakan Batu Pertama diadakan pada 21 November 1931. Gedung gereja inilah yang kemudian dikenal sebagai gedung Gereja HKBP pertama di Pulau Jawa.

1936

Pesta Jubileum si 75 taon di Sipirok.

1939

Setelah Pdt. Peter Tambunan pensiun, maka Pdt. M. Pakpahan menggantikan sejak Januari 1939. Pertumbuhan dan perkembangan jemaat di Pulau Jawa ini kemudian mendapat perhatian Synode Godang di Sipoholon, sehingga pada tahun 1940 dibentuk Distrik IX yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera Selatan dan Singapura, dengan Pdt. M. Pakpahan sebahai Praeses. Sejak perubahan status HKBP menjadi badan hukum, maka banyak perubahan dalam struktur organisasi dan penata-layanan yang lama kelamaan dirasakan oleh jemaat di Luat Angkola / Mandiling, sebagai golongan minoritas dalam tubuh HKBP, kurang cocok dengna perasaan dan kebudayaan serta kebiasaan di daerah tersebut. Pemuka-pemuka ini mulai melakukan upaya pendekatan kepada Pimpinan HKBP agar diambil langkah menanggulangi keadaan yang semakin meruncing. Menjelang pecahnya Perang Dunia II maka pendeta-pendeta yang berasal dari Eropa meninggalkan Tapanuli. Mulailah periode dimana HKBP dipimpin dan dikendalikan oleh orang Tapanuli. Namun demikian, sistem dan watak organisasi gereja masih tetap seperti semula. Sebab itu pada tahun 1940 beberapa tokoh masyarakat memprakarsai berdirinya organisasi gereja yang dinamakan HKBP Angkola. Tujuannya bukan untuk melepaskan diri dari HKBP tetapi hanya menyusun organisasi gereja yang dibaharui dengan Pengakuan Iman (Confession) dan dalam hubungan gereja (huria) yang tidak berbeda dengan HKBP.

1940

26 Oktober, Rapat na parjolo mangido panjaeon ni Huria Angkola, ingananna di Bungabondar. Di rapot on dipatupa rangrangan ni panjaeon i.

1941

Usaha tersebut sedikit terbentur karena penyerbuan tentara Jepang ke Indonesia.

1945

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, jemaat dan gereja HKBP sudah banyak tersebar di Tapanuli maupun di luar Tapanuli, namun dirasakan masih sangat kurang di daerah Tapanuli Selatan. Disisi lain, perekonomian orang Angkola baik yang berada di Angkola maupun di perantauan cukup mengalami kesulitan sehingga banyk kegiatan gereja yang menurun aktifitasnya. Hal ini terutama terjadi pada daerah yang jumlah orang Angkola-nya tidak besar.

Oleh sebab itu, diupayakan untuk memperbaiki gereja, mencetak buku nyanyian dan testamen ataupun buku lainnya kedalam Bahasa Angkola.

1947

Setelah pendudukan bala tentara Jepang berakhir dan usainya Perang Kemerdekaan, maka di Jakarta terdapat banyak perubahan termasuk juga mengenai masyarakat Batak yang beragama Kristen. Sebuah gedung Gereja di Gang Kernolong dirasakan sudah tidak memadai, terlebih dengan perkembangan kota Jakarta di daerah tersebut. Jemaat HKBP yang berpusat di Kernolong kemudian telah berkembang dengan terbentuknya HKBP Petojo, Rawajati, Menteng dan Tanjung Priok pada akhir tahun 50, dan terus berkembang sampai ke Depok dan Bogor.

Diantara jemaat HKBP yang tersebar di Jakarta dan Depok, terdapat anggota yang berasal dari Tapanuli Selatan dan sudah cukup banyak yang aktif sebagai Penatua bahkan ‘Voorgangers”. Anggota yang terbilang aktif inilah yang kemudian membentuk jemaat HKBP Angkola di Jakarta dan Depok.

1956

1 Juli, Ojak Pdt. Z.S. Harahap gabe Pandita di Siberut, Kepulauan Mentawai.

1961

Pesta Jubeleum 100 taon di Sipirok.

1968

24 Maret, Jongjong Hasadaon Kristen Angkola (HKA) di Medan.

1969

Jongjong Hasadaon Kristen Tapanuli Selatan (HKTS) di Jakarta. Hasadaon ini pada mulanya menjalankan kebaktian keluarga dari rumah ke rumah secara bergiliran dimana dana atau kolekte yang terkumpul diarahkan untuk membantu jemaat di Tapanuli Selatan, antara lain melalui:

- memberikan bantuan secukupnya kepada Pendeta pada Hari Natal.

- memberi bantuan kepada pelajar di Sekolah Teologi dan Sekolah Guru Agama secara langsung maupun melalui Departemen Zending HKBP.

- Mencetak buku Perjanjian Baru Yang Diperpendek dan juga Katekismus dalam Bahasa Angkola dengna bantuan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), untuk kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada jemaat di Tapanuli Selatan.

- Bersama HKA Medan mengadakan pencetakan buku Nyanyian Gerejani Bahasa Angkola.

- Bersama HKA Medan dan Gereja Menonit dan LAI mengadakan pencetakan Perjanjian Baru dalam Bahasa Angkola.

- Merintis hubungan dengna institut di luar negeri untuk memperoleh bantuan dalam memajukan masyarakat Kristen di Tapanuli Selatan.

1970

Agustus, Ojak Pdt. M.P. Marpaung, STh, gabe Pandita di Medan na khusus gabe Pandita di HKA Medan.

1972

21 Maret, Rapot ni angka pangitua ni parlagutan-parlagutan na adong di Tapanuli Selatan di Sipirok na mambaen pernyataan Bersama tu Panjaeon, yang mengambil sikap dan kebulatan tekad untuk:

- mengajukan kedapa HKBP agar gereja-gereja di Tapanuli Selatan dipanjae dalam bentuk Badan Gereja HKBP Angkola.

- meminta kepada Pdt. M. Pakpahan (HKBP Menteng Lama) agar memegang pimpinan HKBP Angkola yang akan berkantor pusat di Sipirok.

- meminta seluruh masyarakat Kristen yang berasal dari Tapanuli Selatan di perantauan untuk mendukung kebulatan tekad ini dan membantu segenap tenaga.

1974

4 Mei, Songon parsiapan tu panjaeon i, dibentuk ma sada badan na margoar: Badan Persiapan Panjaeon HKBPA (BPP-HKBPA) di Medan na diketuaan ni St. Baginda Hasibuan.

1974

5 Mei, Jongjong Hasadaon Kristen Angkola (HKA) di Padangsidimpuan. Jana Pdt. Z.S. Harahap gabe Pandita HKA Padangsidimpuan, na nitolopan ni Ephorus Drs. T.S Sihombing.

1974

29 Juli, Rapot Parhalado ni Pusat HKBP di Pematangsiantar na mamutuskon: Prinsip setuju na mangalehon panjaeon tu HKBPA songon na tu Gareja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).

1974

27- 28 Agustus, Rapot na paduahon di Gareja Sipirok na nihadiri 68 halak sian ganop Resort, na niuluhon ni BPP-HKBP Angkola. Di rapot on ma dirangrangi taringot tu parjongjong ni HKBPA na giot manjae. Jana rapot on mangido tu Pdt. M. Pakpahan na gabe Ephorus ni HKBPAngkola.

1975

16 Pebruari (dalam Almanak 18 Pebruari), Pdt. M. Pakpahan ro sian Jakarta. Pertemuan parjolo BPP-HKBP-Angkola di Sipirok.

1975

12 Maret, HKBPA jongjong De Facto, dicetuskan di Padangsidimpuan. Sesepuh HKBPA Ompu Parlindungan melantik: Pdt. M. Pakpahan na gabe Ephorus ni HKBPA, Pdt. Z.S. Harahap na gabe Sekjend ni HKBPA.

1975

1 April, Pencangkolan Pertama Pembangunan Gereja HKBPA Padang-sidimpuan oleh Pdt. Z.S. Harahap. Rapat Majelis HKBP menetapkan untuk mengajukan pada Synode Agung HKBP pemberian otonomi kepada HKBP Angkola dalam bentuk Distrik Istimewa HKBP Angkola.

1975

12 Mei, Ojak Pdt. M. Pakpahan sekeluarga di Kampung Tinggi Sipirok na gabe pimpinan HKBPA, Iaing dison ma dibaen rapot mamilih Majelis Pusat Inti HKBPA.

1975

30 Mei, Rapot parjolo antara Pucuk Pimpinan dohot BPP-HKBP-Angkola di Medan.

1975

25 Juli, Rapot di Hutaraja,na niuluhon ni BPP laho mambentuk Panitia Pesta Peresmian Panjaeon HKBP-Angkola na nipatupahon di Bungabondar.

1975

29 Agustus, Rapot Segitiga di Medan, i ma utusan na ro sian Bonabulu, Medan dohot Jakarta, laho mempersiapkan Pesta Peresmian HKBPA manjae. Laing di rapot on ma dirangrang Anggaran Dasar / Peraturan Rumah Tangga HKBP-Angkola.

1975

30 Agustus, Pembentukan Panilia Pelaksana Panjaeon HKBPA na ni ketuaan ni Drs. P. Ritonga.

1975

7 September, Pesta Mamayakkon Batu Ojahan ni Gareja HKBPA Padangsidimpuan, na niuluhon ni Pucuk Pimpinan.

1975

4 Oktober, Rapot di Sipirok na niuluhon ni BPP-HKBPA mempersiapkan Bonabulu dipanjagiton ni HKBPA. 17 Oktober, Synode HKBP menetapkan memberikan Pengakuan De Facto kepada gereja HKBP Angkola yang berdiri sendiri serta memberikan waktu untuk mempersiapkan menerima Pengakuan De Jure pada Synode Agung HKBP tahun 1976.

1975

19 Oktober, Rapat Parpudi di Hutaraja na niuluhon ni BPP-HKBPA, ansa sude anggota panitia bergerak ma tu Bungabondar mangkarejohon na hasaya tu Pesta Peresmian i.

1975

26 Oktober, PESTA PERESMIAN PANJAEON HKBPA De FACTO di BUNGABONDAR, na dipasahat ni Pucuk Pimpinan HKBP dengan memberikan 22 Gereja dan 9 Pendeta. Penanda tanganan NASKAH PANJAEON HKBPA na ditandatanganan ni Ephorus HKBP Ds. GHM. Siahaan, Sekjend HKBP Pdt. Dr. FH. Sianipar dohot Pimpinan ni HKBPA. Wakil Ephorus Pdt. M. Pakpahan, Pdt. Z.S. Harahap, sian BPP-HKBPA: St. Baginda Hasibuan (Ketua Umum) dohot St. Arief Hasibuan (Sekretaris Umum).

 

 

1975

27 Oktober, Synode Am I HKBPA di Bungabondar.

1975

2 Nopember, Parmingguon Parjolo HKBPA di Sipirok masuk jam 14.00.

1975

16 Nopember, Pdt. MP. Marpaung, STh diojakhon Pucuk Pimpinan gabe Pandita HKBPA Resort Padangsidimpuan.

1975

25 Nopember, Musyawarah antara Pucuk Pimpinan dohot HKBP na niadopan ni Muspida Kabupaten Tapanuli Selatan di Komando Resimen (Komres) 0210 Medan dohot haputusan: HKBPA diizinkon mamake Gereja HKBP di Tapanuli Selatan sesuai tu Keputusan Naskah Panjaeon No. 6 dohot 7.

1975

26 Nopember, Pdt. A. Simanjuntak diojakkon Pucuk Pimpinan gabe Pandita HKBPA Resort Bungabondar na maringanan di Bungabondar.

1975

30 Nopember, Pdt. BH. Simanjuntak, STh diojakhon Pucuk Pimpinan gabe Pandita HKBPA Resort Sumatera Timur, maringanan di Medan.

1975

14 Desember, Pdt. P. Mardiha, STh diojakhon Pucuk Pimpinan gabe Pandita HKBPA di Resort Sipirok, maringanan di Sipirok

1976

18 Januari, Pesta Peresmian HKBPA, saAngkola JuJu di Simasom.